Perang dagang global berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG. Pahami implikasinya untuk strategi investasimu.

Perkembangan perang dagang saat ini menjadi sorotan market global. Ini dimulai dari pengumuman tarif global oleh Presiden AS, Donald Trump, pada 2 April 2025. Trump memberlakukan tarif dasar sebesar 10% untuk hampir semua impor AS, dengan tarif yang lebih tinggi untuk 57 negara yang merupakan sumber defisit perdagangan AS. |
|
|
Pahami Tarif Impor dan Apa yang Sedang Terjadi Secara Global |
|
|
- Kenaikan Tarif Impor
Kenaikan pajak impor bisa bikin harga produk ekspor Indonesia jadi lebih mahal di AS. Akibatnya, bisa mengurangi daya saing produk Indonesia dibandingkan produk lokal AS. - Kenaikan tarif impor seperti yang dilakukan AS bisa memengaruhi pasar global. Namun dalam jangka menengah bisa jadi peluang bagi Indonesia untuk mengambil alih pangsa ekspor dari negara yang terkena tarif lebih tinggi.
|
| |
Apa itu Perang Tarif Global? |
Perang tarif terjadi saat negara saling menaikkan tarif impor sebagai balasan. Berikut adalah timeline perkembangan : |
|
|
- 4 April: China membalas dengan tarif impor tambahan sebesar 34% terhadap AS dan disebut akan berlaku per 10 April 2025.
- 8 April: Trump menambah tarif impor untuk China sebesar +50 percentage point, sehingga total tarif impor yang dikenakan oleh AS untuk China mencapai 104%.
- 9 April: Menanggapi hal ini, pemerintah China mengumumkan kenaikan tarif untuk impor asal AS dari 34% menjadi 84% per 10 April 2025, serta menyatakan akan menuntut AS ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
- 10 April: Trump menunda sementara tarif resiprokal selama 90 hari untuk sejumlah negara. Namun tarif dasar 10% tetap berlaku. Di sisi lain, AS menaikkan tarif untuk China menjadi 125%.
- 12 April: Pemerintah China merespons keputusan AS dengan menaikkan tarif untuk semua barang impor asal AS dari 84% menjadi 125%, yang berlaku mulai Sabtu (12/4).
|
|
|
Dampak Kenaikan Tarif Impor Terhadap Investasi |
|
| Apa yang Perlu Dilakukan Investor?
|
|
|
- Ingat tujuan keuangan: Jika tujuan keuanganmu masih bertahun-tahun ke depan, maka ingatlah bahwa koreksi di market bersifat sementara. Tetap fokus untuk tujuan jangka panjang.
- Hindari keputusan emosional seperti panic sell ketika market terkoreksi. Mungkin menjual aset memberikan rasa aman. Namun meningkatkan kemungkinan kamu melewati rebound.
- Atur portofolio sesuai profil risiko. Portofolio yang terdiversifikasi bisa bantu mengurangi dampak fluktuasi pasar. Kamu bisa mempertimbangkan diversifikasi ke aset yang lebih stabil seperti Reksa Dana Pasar Uang dan obligasi pemerintah jangka pendek untuk melindungi portofolio saat market volatil.
- Stay invested. Gunakan fitur SIP (Systematic Investment Plan) agar tetap konsisten tanpa perlu repot market timing.
|
|
|
Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual produk tertentu. |
|
|
Email ini dikirim oleh PT Bibit Tumbuh Bersama, Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Informasi di dalam email ini bersifat rahasia dan hanya ditujukan bagi investor yang menggunakan APERD PT Bibit Tumbuh Bersama dan menerima email ini. Dilarang memperbanyak, menyebarkan, dan menyalin informasi rahasia ini kepada pihak lain tanpa persetujuan PT Bibit Tumbuh Bersama. Reksa dana merupakan produk pasar modal dan bukan produk APERD. APERD tidak bertanggung jawab atas risiko pengelolaan portofolio yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Semua investasi mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas nilai investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, keuntungan yang diharapkan dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi.
Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.
|
Copyright © 2024. All rights reserved. |
|
|
|
0 komentar:
Posting Komentar