- Menteri Keuangan Baru Janji Jaga Defisit APBN, Longgarkan Likuiditas – Menteri Keuangan Purbaya memastikan akan menjaga defisit APBN agar tetap di bawah 3% PDB dan tidak adanya potensi kenaikan pajak, dengan klaim potensi pertumbuhan ekonomi di atas +6% YoY.
- Inflasi AS Sejalan Ekspektasi, Pemangkasan Suku Bunga The Fed On–Track – Inflasi AS pada Agustus 2025 sejalan dengan ekspektasi meski mengalami peningkatan. Menanggapi rilis data inflasi AS, yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun turun -2,48 bps ke level ~4,02%.
- Stimulus Baru untuk Mendorong Perekonomian – Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan stimulus baru untuk mendorong perekonomian, meliputi insentif pajak, program bantuan pangan, perluasan cakupan asuransi kecelakaan kerja, program magang, dan bantuan perumahan.
|
| |
Menteri Keuangan Baru Janji Jaga Defisit APBN, Longgarkan Likuiditas |
- Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan bahwa defisit APBN akan tetap di bawah 3% PDB tanpa adanya pemberlakuan pajak baru.
- Purbaya juga mengumumkan rencana injeksi cadangan Rp200 triliun kas pemerintah ke sistem perbankan untuk memperbaiki likuiditas dan mendorong penyaluran kredit sebagai respons atas perlambatan ekonomi. Direktur Jenderal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, mengatakan bahwa injeksi likuiditas ini tidak bisa diinvestasikan dalam SBN maupun SRBI.
- Atas penempatan dana tersebut, Himbara dapat mengurangi bunga yang mereka bayarkan atas simpanan pemerintah menjadi 2%, jika dana tersebut diberikan kepada Kopdes Merah Putih sebagai pinjaman modal.
- Sebelumnya, Purbaya mengklaim bahwa perekonomian Indonesia berpotensi tumbuh di atas +6% YoY dalam waktu yang tidak terlalu lama, bahkan berpotensi mencapai target pertumbuhan +8% YoY (vs. target RAPBN 2026: +5,4% YoY).
- Selain itu, Purbaya mengatakan bahwa pihaknya membuka peluang untuk merevisi usulan RAPBN 2026.
|
Inflasi AS Sejalan Ekspektasi, Pemangkasan Suku Bunga The Fed On–Track
|
- Biro statistik tenaga kerja AS mencatat inflasi CPI AS pada Agustus 2025 naik 0,4% MoM dan 2,9% YoY (vs Juli 2025: 2,7%), sejalan dengan konsensus, dan menjadi laju tertinggi sejak Januari.
- Pada laporan terpisah jumlah klaim untuk manfaat pengangguran (jobless benefit claims) meningkat sebanyak 27.000 pada pekan lalu ke level 263.000 (vs ekspektasi konsensus: 235.000).
- Merespons data inflasi AS, yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun turun -2,48 bps ke level ~4,02%, sementara yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun -5,1 bps ke level ~6,33%. Pada hari yang sama, kurs rupiah terhadap dolar AS menguat +0,51% ke level 16.378.
- Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas rate cut oleh The Fed bertahan di level 100% sejak minggu lalu.
|
Stimulus Baru untuk Mendorong Perekonomian
|
- Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan stimulus baru untuk mendorong perekonomian.
- Menurut Laporan Bloomberg, stimulus tersebut mencakup: 1) insentif pajak untuk hotel, restoran, dan kafe; 2) perpanjangan program bantuan pangan untuk 3 bulan; 3) memperluas cakupan asuransi kecelakaan kerja, pengangguran, dan kematian bagi pengemudi ojek online; 4) menyediakan program magang bagi lulusan baru, dan 5) bantuan perumahan.
- Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa sejumlah program yang telah berjalan akan terus diperluas, antara lain subsidi gaji bagi pekerja berpenghasilan di bawah Rp10 juta, program padat karya, pembebasan PPh untuk sektor tertentu, dan dukungan perumahan.
|
|
|
Investor domestik terus memantau arah kebijakan fiskal pasca penunjukan Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa. Komitmen untuk menjaga defisit APBN di bawah 3% PDB tanpa kenaikan pajak baru, disertai injeksi likuiditas sebesar Rp200 triliun ke sistem perbankan, tampaknya direspons positif oleh pasar dengan kenaikan IHSG +1,4% serta penurunan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun -5,1 bps ke level 6,33% sejak pernyataan Purbaya pada Kamis (11/9). Selain itu, stimulus dari pemerintah dapat memberikan sentimen positif untuk perekonomian dalam jangka pendek. Dari sisi global, data inflasi AS dan klaim pengangguran memperkuat keyakinan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga secara bertahap. The Fed akan mengadakan pertemuan pada tanggal 16–17 September 2025. Efektivitas kebijakan fiskal dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta arah kebijakan suku bunga The Fed, akan menjadi faktor utama yang menentukan arus modal ke pasar domestik. Perkembangan kondisi makro akan terus berubah sehingga investor perlu disiplin berinvestasi sesuai profil risiko dan tujuan keuangan masing–masing, agar tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi pasar yang memicu panic selling atau FOMO. - Bagi investor yang ingin menambah stabilitas portofolio, produk seperti Reksa Dana Pasar Uang dapat dipertimbangkan.
- Sementara itu, dengan arah kebijakan fiskal domestik yang lebih akomodatif serta tren penurunan suku bunga, investor dengan profil risiko low–moderate dengan jangka waktu investasi lebih panjang dapat mempertimbangkan Reksa Dana Obligasi dengan kinerja historis yang konsisten naik dalam jangka panjang.
|
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
|
*Return reksa dana per 12 September 2025. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. |
Top Reksa Dana Obligasi di Bibit
|
*Return reksa dana per 12 September 2025. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. |
|
|
Foreign Outflow Saham dan Obligasi Masih Berlanjut |
Sumber: Bloomberg per 12 September 2025, kecuali Foreign Flow Obligasi per 10 September 2025 |
|
|
🪙 EMAS: Anak Usaha MDKA, IPO dengan Valuasi Rp29–49 T – Anak usaha MDKA, EMAS, berencana IPO dengan menawarkan hingga 1,6 miliar saham baru di kisaran harga Rp1.800–3.020 per lembar dengan target perolehan datan sekitar Rp2,9–4,9 triliun yang akan digunakan untuk pembayaran utang dipercepat kepada MDKA, setoran modal bertahap, dan pinjaman ke anak usahanya. 🚗 Wholesales Mobil Agustus 2025 Masih di Level 60 Ribuan, Turun -19% YoY – Gaikindo melaporkan penurunan wholesales mobil nasional pada Agustus 2025 sebesar -19% YoY, menandai penurunan penjualan mobil secara tahunan di kisaran -20% YoY dalam 3 bulan beruntun. Rendahnya ekspektasi market membuat realisasi penjualan mobil tidak lagi mempengaruhi pergerakan harga saham emiten–emiten otomotif. |
|
|
Writer: Bibit Investment Research Team Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual produk tertentu. |
|
|
Email ini dikirim oleh PT Bibit Tumbuh Bersama, Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Informasi di dalam email ini bersifat rahasia dan hanya ditujukan bagi investor yang menggunakan APERD PT Bibit Tumbuh Bersama dan menerima email ini. Dilarang memperbanyak, menyebarkan, dan menyalin informasi rahasia ini kepada pihak lain tanpa persetujuan PT Bibit Tumbuh Bersama. Reksa dana merupakan produk pasar modal dan bukan produk APERD. APERD tidak bertanggung jawab atas risiko pengelolaan portofolio yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Semua investasi mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas nilai investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, keuntungan yang diharapkan dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi.
Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.
|
Copyright © 2024. All rights reserved. |
|
|
|
0 komentar:
Posting Komentar