| | Perang AS–Iran & Harga Minyak: Serangan militan Houthi ke Israel pada akhir pekan lalu kembali mendorong kenaikan harga minyak Brent. → kembalinya kekhawatiran terkait pasokan energi dan Selat Hormuz yang masih terganggu menjaga harga minyak tetap tinggi. | | | Upaya Menstabilkan Yield Obligasi: Pemerintah mengizinkan bank menggunakan penempatan dana Rp100 triliun untuk membeli obligasi pemerintah guna menstabilkan yield. → yield berpotensi lebih stabil jangka pendek, namun pergerakan yield ke depannya bergantung pada durasi konflik, arah harga minyak, dan kebijakan pemerintah. | | | IHSG Mendekati Area Bottom Secara Historis: IHSG telah terkoreksi -23% dari level all-time high dan kini diperdagangkan di level 11,4x 1–Year Forward P/E, sekitar -2 Standard Deviation dari rata-rata historis 15 tahun. → secara historis, koreksi pada level ini berpotensi mendekati area bottom, namun arah perang dan defisit fiskal menjadi penentu keberlanjutan pemulihan. | | |
|
|
| MARKET UPDATE | | Foreign Outflow Obligasi dan Saham dalam Seminggu Terakhir | | Latest Update (27/03/2026) | | | Latest | Week on Week (WoW) | YtD | | IHSG | 7.097,1 | ▼ -0,14% | ▼ -17,92% | | IDR 10Y Govt Bond Yield | 6,86% | ▼ -1 bps | ▲ +79 bps | | Rata-rata Bunga Deposito 12 bulan | 3,61% | ▼ -3 bps | ▼ -9 bps | | Foreign Flow | | (Dalam Triliun Rupiah) | | 1W | 1M | YtD | | Obligasi | -2,88 | -26,54 | -29,79 | | Saham | -22,44* | -21,55 | -31,09 | *Termasuk transaksi nego sebesar Rp18,7 triliun Sumber: Bloomberg, data all market per 27 Maret 2026. | | | |
| π What Happened in the Market | | |
| | Harga minyak Brent naik +1,4% ke level ~US$114,3/barrel pada penutupan Senin (30/3), setelah ditutup +4,22% pada Jumat (27/3) di US$112,6/barrel. | | Kenaikan ini diakibatkan kembalinya kekhawatiran terkait pasokan energi, seiring serangan rudal dari militan Houthi ke Israel pada akhir pekan lalu. Sentimen negatif turut menyebar ke bursa regional, dengan Nikkei -4,8%, Kospi -4,5%, ASX 200 -1,5% pada Senin (30/3) pagi, melanjutkan pelemahan S&P 500 -1,67% ke level terendah 7 bulan pada Jumat (27/3). | | | Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan pada Rabu (25/3) bahwa Iran sedang meninjau proposal AS untuk mengakhiri perang, tetapi Iran tidak berniat mengadakan pembicaraan untuk mengakhiri konflik Timur Tengah yang semakin meluas. | | | Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan pada Kamis (26/3) bahwa AS akan menghentikan sementara serangan terhadap pembangkit energi Iran selama 10 hari atas permintaan pemerintah Iran. Trump juga mengeklaim bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan "sangat baik," sementara Iran dikabarkan belum memutuskan apakah akan merespons proposal AS. | | | | Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Rabu (25/3) bahwa pihaknya memperbolehkan bank untuk menggunakan tambahan penempatan dana pemerintah sebesar Rp100 triliun guna membeli obligasi pemerintah dan membantu menstabilkan yield obligasi. | | Sebagai konteks, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun telah naik +43,4 bps di level 6,86% per Jumat (27/3) sejak akhir Februari 2026 (asumsi APBN 2026: 6,9%). | | | | IHSG telah turun -23,1% dari level all-time high (ATH) ~9.135 (20 Januari 2026) ke level ~7.022 sebelum libur Lebaran (16 Maret 2026), didorong oleh 3 shock berturut-turut: pembekuan sementara MSCI untuk indeks Indonesia, perang AS–Iran, dan meningkatnya risiko fiskal. | | Pasca–libur Lebaran, IHSG menguat +2,75% pada Rabu (25/3) sebelum ditutup kembali melemah ke level 7.097 (-0,9%) per Jumat (27/3). | | | IHSG kini diperdagangkan pada valuasi 11,4x 1-Year Forward P/E, sekitar -2 Standard Deviation di bawah rata-rata historis 15 tahun. Level ini merupakan valuasi IHSG yang terendah sejak 'pandemi Covid-19 2020' dan 'selloff Liberation Day 2025.' | | | | Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan pada Rabu (25/3) bahwa pihaknya telah menyetujui perubahan peraturan minimum free float dari 7,5% menjadi 15% yang diajukan oleh BEI. | | |
|
|
Secara Global: Negosiasi AS–Iran masih berjalan, namun belum ada kepastian kapan konflik ini berakhir membuat harga minyak terus bergerak volatil mengikuti setiap perkembangan. Keterlibatan Houthi yang kembali melancarkan serangan rudal ke Israel berpotensi memperluas risiko gangguan pasokan energi dan menjaga harga minyak bertahan di level tinggi lebih lama. Hal ini dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan mendorong The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih lama dari ekspektasi awal. Per Senin (30/3), CME FedWatch menunjukkan probabilitas 97% suku bunga akan ditahan pada pertemuan April 2026 dan 95% untuk pertemuan Juni 2026.
|
Untuk Indonesia: Tambahan penempatan dana Rp100 triliun ke perbankan untuk pembelian obligasi pemerintah berpotensi membantu menstabilkan yield obligasi. Namun, ke depannya pergerakan yield dipengaruhi oleh kelanjutan konflik dan langkah konkret dari pemerintah untuk meredakan kekhawatiran fiskal di tengah tekanan harga minyak. Di sisi pasar modal, persetujuan OJK atas kenaikan minimum free float menandakan adanya progress menjelang evaluasi MSCI pada Mei 2026, meski pasar masih menunggu progress pada inisiatif reformasi lainnya untuk memulihkan kepercayaan investor asing secara lebih menyeluruh. |
|
|
Perkembangan negosiasi AS–Iran kini menjadi faktor utama yang menggerakkan harga minyak global. Meski volatilitas masih tinggi, harga minyak kini mulai bergerak lebih stabil di level tinggi seiring pasar yang mulai memperhitungkan bahwa konflik ini berpotensi berlangsung lebih lama. Untuk IHSG, penurunan dari peak ke bottom (drawdown) sebesar -23% berada di kisaran yang sama dengan episode 'Taper Tantrum 2013' (-24%), 'China Scare 2015' (-25%), dan 'selloff Liberation Day 2025' (-25%). Jika pola yang sama terjadi, hal ini mengindikasikan bahwa IHSG sudah berada/mendekati area bottom. Namun perlu dicatat bahwa arah pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada durasi konflik dan langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal. Ke depan, investor perlu mencermati durasi penutupan Selat Hormuz dan arah pergerakan harga minyak, upaya pemerintah untuk menjaga defisit fiskal dan mengelola APBN di tengah tekanan inflasi harga minyak, serta eksekusi reformasi pasar modal Indonesia. Dengan sentimen yang dapat berubah dengan cepat mengikuti dinamika negosiasi AS-Iran, penting bagi investor untuk memastikan bahwa alokasi aset sudah sesuai profil risiko dan tidak panik. Aset investasi rendah risiko seperti Reksa Dana Pasar Uang dapat dipertimbangkan sebagai alternatif untuk membantu meningkatkan stabilitas portofolio. Selain itu, Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat membantu menjaga nilai aset ketika rupiah melemah. |
|
|
Bibit New Product | Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD) di Bibit | | BRI Seruni Likuid Dolar | | ✓ | Cocok untuk diversifikasi mata uang asing di aset yang rendah risiko. | Return +7,22% dalam Rupiah Sejak Peluncuran | | Return +2,51% dalam US Dollar Sejak Peluncuran | | *Return historis dari kenaikan NAV Reksa Dana sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 27 Maret 2026. Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 27 Maret 2026. Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan. | | |
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit |
Return reksa dana per 27 Maret 2026. Reksa dana bertanda petir bisa dicairkan instan. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. |
|
|
SBN SR024: Berakhir 2 Minggu Lagi, Sisa Kuota 41%
|
Sukuk Ritel SR024 bisa dibeli hingga 15 April 2026 pukul 12.00 WIB. Dapatkan return anti turun hingga jatuh tempo dengan 2 tipe tenor: SR024-T3 (3 tahun) return 5,55% p.a. dan SR024-T5 (5 tahun) return 5,90% p.a. Net return SR024 lebih tinggi 78% dari deposito bank umum yang dijamin LPS dengan pajak yang lebih rendah. Kuota terbatas, kini tersisa 41% (per 31 Maret 2026 pukul 14.00 WIB). | Simulasi Passive Income Bulanan dari SR024 |
SR024 | Modal | .png) | SR024-T3 | | .png) | SR024-T5 | | | Rp10 Juta | Rp41.625 | Rp44.253 | | Rp100 Juta | Rp416.250 | Rp442.530 | | Rp1 Miliar | Rp4.162.500 | Rp4.425.300 | | Rp5 Miliar | Rp20.812.500 | Rp22.126.500 | | Simulasikan modal kamu → | | | |
|
|
Writer: Bibit Investment Research Team Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual produk tertentu. |
|
|
Email ini dikirim oleh PT Bibit Tumbuh Bersama, Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Informasi di dalam email ini bersifat rahasia dan hanya ditujukan bagi investor yang menggunakan APERD PT Bibit Tumbuh Bersama dan menerima email ini. Dilarang memperbanyak, menyebarkan, dan menyalin informasi rahasia ini kepada pihak lain tanpa persetujuan PT Bibit Tumbuh Bersama. Reksa dana merupakan produk pasar modal dan bukan produk APERD. APERD tidak bertanggung jawab atas risiko pengelolaan portofolio yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Semua investasi mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas nilai investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, keuntungan yang diharapkan dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi.
Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.
If you no longer wish to receive this email, click on the following link: Unsubscribe |
Copyright © 2026. All rights reserved. | |
|
|
0 komentar:
Posting Komentar