|
|
Research Mandiri Sekuritas · 24 April 2026 |
|
|
|
Realisasi Investasi Indonesia Mencapai Rp499 Triliun pada 1Q26, Tumbuh 7,2% YoY |
|
|
|
|
🌱 What's Growin' on Today |
|
Realisasi investasi 1Q26 capai Rp499 T, tumbuh 7,2% YoY
Danantara bidik saham Eramet di Weda Bay Nickel
Indonesia pastikan bebas pungutan kapal di Selat Malaka
BBCA 3M26: laba bersih +4% YoY
Lo Kheng Hong jual SIMP Rp7,5 M
AKRA 3M26: laba bersih +16% YoY
Saiko Consultancy akuisisi 41,18% NAYZ
SFAN restrukturisasi grup tanpa dampak material
Dividend Update
|
|
|
|
|
Performa IHSG:
📊 Indeks Harga Saham Gabungan 7.129,49 -249,12 (-3,38%) |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Realisasi Investasi 1Q26 Capai Rp499 Triliun |
|
|
Realisasi investasi Indonesia pada 1Q26 mencapai ~Rp499 triliun, tumbuh 7,2% YoY, didorong penanaman modal asing sebesar ~Rp250 triliun dan penanaman modal dalam negeri ~Rp249 triliun. Capaian tersebut setara 24,4% dari target investasi 2026 sebesar ~Rp2.041 triliun, dengan kontribusi sektor hilirisasi sekitar 29%–30% terhadap total investasi. |
|
|
Danantara Bidik Saham Eramet di Weda Bay Nickel
|
|
|
Bloomberg melaporkan bahwa Danantara tengah berdiskusi untuk mengakuisisi seluruh atau sebagian kepemilikan 38,7% Eramet SA di PT Weda Bay Nickel, yang merupakan tambang nikel terbesar di dunia. Pada saat yang sama, PT Weda Bay Nickel bersiap menghentikan sementara produksi pada Mei 2026 setelah pemangkasan kuota 71% dari Pemerintah, dengan manajemen tengah mengajukan revisi kenaikan kuota. PT Aneka Tambang (ANTM) memiliki 10% saham di PT Weda Bay Nickel.
|
|
|
Indonesia Pastikan Bebas Pungutan di Selat Malaka
|
|
|
Bloomberg melaporkan bahwa Indonesia memastikan tidak akan mengenakan pungutan atas kapal yang melintas di Selat Malaka, sejalan dengan komitmen mendukung kebebasan navigasi. Menteri Luar Negeri, Sugiono, menyatakan Indonesia harus mematuhi Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS), yang membatasi negara pesisir mengenakan biaya pada jalur pelayaran internasional.
|
|
|
|
|
|
|
$BBCA 3M26: laba bersih +4% YoY
|
|
|
PT Bank Central Asia (BBCA) mencatatkan laba bersih sebesar Rp14,7 triliun pada 1Q26 (+4% QoQ; +4% YoY). Hasil ini sejalan estimasi Mansek dan konsensus, mencapai 24% dari estimasi FY26F. Performa BBCA pada 3M26 terutama didorong oleh biaya operasional yang relatif stabil dan pertumbuhan pendapatan non-bunga yang kuat. PPOP pada 3M26 naik +5% YoY. Kredit bertumbuh +6% YoY dengan DPK naik +8% YoY. NIM pada 3M26 turun menjadi 5,4% (vs. 3M25: 5,8%). Adapun beban provisi pada 3M26 naik +20% YoY, sehingga CoC naik menjadi 0,51% (vs. 3M25: 0,45%). Mansek mempertahankan rating BUY untuk BBCA.
|
|
|
Lo Kheng Hong jual $SIMP Rp7,5 M |
|
|
Pemegang saham PT Salim Ivomas Pratama (SIMP) , Drs Lo Kheng Hong, menjual ~8 juta (0,06%) saham SIMP dengan harga rata-rata Rp921/saham, sehingga total transaksi mencapai ~Rp7,5 miliar. Transaksi dilakukan pada 14 April 2026, bertujuan untuk realisiasi keuntungan. Setelah transaksi ini, kepemilikannya di menjadi 4,97%.
|
|
|
$AKRA 3M26: laba bersih +16% YoY |
|
|
PT AKR Corporindo (AKRA) mencatatkan laba bersih sebesar Rp656 miliar pada 1Q26 (-20% QoQ; +16% YoY). Hasil ini sejalan dengan estimasi, mencapai 24% dari estimasi FY26F konsensus. Pendapatan pada 1Q26 tercatat Rp12,9 triliun (-5% QoQ; +26% YoY), mencapai 28% dari estimasi FY26F konsensus. Mansek memiliki rating BUY untuk AKRA.
|
|
|
Saiko Consultancy akuisisi 41,18% $NAYZ |
|
|
PT Hassana Boga Sejahtera (NAYZ) mengumumkan bahwa Saiko Consultancy berencana mengakuisisi ~1 miliar (41,18%) saham NAYZ yang saat ini dimiliki Asia Intrainvest. Rincian harga dan jadwal penyelesaian transaksi belum diumumkan. Setelah akuisisi rampung, Saiko Consultancy akan menjadi pengendali baru perseroan dan wajib melaksanakan penawaran tender wajib.
|
|
|
$SFAN restrukturisasi grup tanpa dampak material
|
|
|
PT Surya Fajar Capital (SFAN) menyampaikan rencana restrukturisasi struktur grup melalui dua transaksi afiliasi untuk menyederhanakan usaha, yakni divestasi kepemilikan SFAN di PT Surya Fajar Urun Dana kepada entitas anak PT Dana Pinjaman Investama, serta divestasi kepemilikan DPI di PT Mitra Usaha Indofund kepada PT Surya Fajar Corpora. Manajemen menegaskan transaksi ini tidak berdampak material terhadap operasional maupun kondisi keuangan Perseroan.
|
|
|
|
|
BBTN putuskan tak bagi dividen 2025 demi perkuat modal
ASII bagikan dividen senilai Rp292/saham, setara dividend yield 4,6%. Cum date pada 4 Mei 2026, dengan pembayaran pada 25 Mei 2026.
PGEO bagikan dividen senilai Rp50,6/saham, setara dividend yield 4,9%. Cum date pada 30 April 2026, dengan pembayaran pada 22 Mei 2026.
GOOD bagikan dividen senilai Rp9,5/saham, setara dividend yield 4,6%. Cum date pada 6 Mei 2026, dengan pembayaran pada 20 Mei 2026.
DKFT bagikan dividen senilai Rp35/saham, setara dividend yield 4,3%. Cum date pada 30 April 2026, dengan pembayaran pada 12 Mei 2026.
NAIK bagikan dividen senilai Rp3/saham, setara dividend yield 2,9%. Cum date pada 29 April 2026, dengan pembayaran pada 22 Mei 2026.
|
|
|
|
|
|
|
0 komentar:
Posting Komentar