|
|
|
Harga Minyak Turun di Bawah US$85/barrel: Turun -4% ke kisaran ~US$83,9/barrel pada Senin (15/6) pagi, didorong kabar perjanjian antara AS-Iran.
→ berpotensi meredakan tekanan harga energi dan tekanan inflasi global.
|
|
|
IHSG Catat Kenaikan Mingguan Tertinggi Sejak Maret 2020: Menguat +2,1% ke level 6.007 pada Jumat (12/6) dan +7,4% WoW.
→ didorong turunnya harga minyak dan penjelasan terkait PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
|
|
|
Inflasi CPI AS Tertinggi Sejak April 2023: Inflasi AS Mei 2026 naik ke +4,2% YoY (vs April 2026: +3,8% YoY).
→ dikombinasikan dengan perkembangan konflik, pasar kini terbelah antara skenario The Fed menahan atau menaikkan suku bunga.
|
|
|
|
|
|
|
Market Update
Yield Obligasi Pemerintah Tenor 10 Tahun Tertinggi Sejak Oktober 2022
Latest Update (12/06/2026)
|
|
IHSG
6.007,7
|
WoW ▲ +7,38%
YtD ▼ -30,52%
|
|
|
IDR 10Y Govt Bond Yield
7,42%
|
WoW ▲ +54 bps
YtD ▲ +135 bps
|
|
|
Rata-rata Bunga Deposito 12 Bln
3,81%
|
WoW ▲ +7 bps
YtD ▲ +10 bps
|
|
|
Foreign Flow
(Dalam Triliun Rupiah)
|
1W |
1M |
YtD |
| Obligasi |
-6,16 |
-1,99 |
-13,76 |
| Saham |
-4,68 |
-28,51 |
-69,28 |
|
|
Sumber: Bloomberg, data all market per 12 Juni 2026, kecuali data foreign flow obligasi per 11 Juni 2026.
|
|
|
| 🌏 What Happened in the Market |
|
|
|
|
Harga minyak mentah Brent turun -4% ke ~US$83,9/barrel pada Senin (15/6) pagi, setelah AS dan Iran mengumumkan kesepakatan kerangka perdamaian yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz per Jumat (19/6).
|
|
Kesepakatan ini juga dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, yang menyatakan bahwa teks kesepakatan telah difinalisasi. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengatakan bahwa seremoni penandatanganan dijadwalkan pada Jumat ini di Swiss. |
|
|
|
IHSG ditutup menguat +4,1% ke level 6.254 pada Senin (15/6), melanjutkan kenaikan +7,4% WoW pada Jumat (12/6) dan menandai peningkatan mingguan tertinggi sejak Maret 2020. Hal ini terjadi seiring turunnya harga minyak seiring optimisme tercapainya kesepakatan AS–Iran dan klaim Danantara bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia hanya akan bertindak sebagai pengawas ekspor. |
|
|
Bank Indonesia mencatat bahwa indeks keyakinan konsumen (IKK) Indonesia melandai secara bulanan ke level 120,9 pada Mei 2026 (vs. April 2026: 123, Mei 2025: 117,5), didorong oleh penurunan secara bulanan di hampir seluruh sub–indeks.
|
|
Bank Indonesia memperkirakan penjualan ritel pada Mei 2026 akan terkontraksi -3,2% YoY. Realisasi penjualan ritel April 2026 tercatat terkontraksi -3,7% YoY (vs Maret 2026: +3,4% YoY), lebih rendah dibanding perkiraan BI yang mengestimasikan kontraksi -1,9% YoY. |
|
|
|
Nilai tukar rupiah menguat ~1% ke level 17.703 pada Senin (15/6), melanjutkan penguatan dari Jumat (12/6) di level 17.870 (+0,8% WoW) setelah melemah secara mingguan sejak awal April 2026.
|
|
Bloomberg melaporkan bahwa Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengisyaratkan pihaknya akan mengizinkan kenaikan yield obligasi dan membuka kemungkinan untuk kembali menaikkan suku bunga di masa mendatang, yang ditujukan untuk menarik inflow ke Indonesia. |
|
|
Pertamina mengumumkan kenaikan harga jual Pertamax dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter dan Pertamax Green dari Rp12.900/liter menjadi Rp17.000/liter per Rabu (10/6). |
|
|
Bloomberg melaporkan bahwa Bank Indonesia telah memperketat pengawasan transaksi valuta asing terhadap bank internasional dan domestik untuk membendung penurunan rupiah. |
|
|
|
Organisation for Economic Co–operation and Development (OECD) dalam outlook Juni 2026 juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi +4,7% YoY pada 2026, sementara outlook untuk 2027 tidak berubah di +5% YoY.
|
|
Sebelumnya, OECD pada outlook Maret 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di +4,8% YoY pada 2026 dan +5% pada 2027. |
|
|
|
Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS Mei 2026 sebesar +4,2% YoY (vs April 2026: +3,8% YoY), tertinggi sejak April 2023, sesuai ekspektasi konsensus (4,2%).
|
|
Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,9% YoY pada Mei 2026 (vs April 2026: inflasi 2,8% YoY), tertinggi sejak September 2025. |
|
|
Biro Statistik Tenaga Kerja AS juga mencatat indeks harga produsen (PPI) AS mengalami inflasi sebesar 6,5% YoY pada Mei 2026 (vs April 2026: inflasi 5,7% YoY), melampaui ekspektasi konsensus (6,4% YoY), merupakan level tertinggi sejak November 2022 sekaligus menandai kenaikan laju inflasi selama 4 bulan beruntun. |
|
|
|
|
|
|
Secara Global: Data CPI dan PPI yang dirilis minggu ini, menyusul data ketenagakerjaan Mei yang menguat, mengonfirmasi bahwa ekonomi AS tetap solid sekalipun inflasi bertahan tinggi.
Kombinasi pasar tenaga kerja yang menguat pada minggu sebelumnya dan inflasi yang tinggi membuat pasar kini terbelah antara skenario The Fed menahan atau menaikkan suku bunga: Pasar mempertimbangkan probabilitas hold pada pertemuan Desember 2026 naik signifikan ke ~47,9% per Senin (15/6), dari ~28,5% sepekan sebelumnya (5/6), kini hampir berimbang dengan probabilitas hike di ~50,5%, berdasarkan CME Fedwatch Tool.
|
Untuk Indonesia: Pernyataan Gubernur BI yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga menjadi respons langsung terhadap tekanan eksternal yang meningkat. Kenaikan yield obligasi pemerintah 10 tahun dalam sepekan terakhir sejalan dengan arah kebijakan BI untuk menarik inflow dan menstabilkan rupiah yang memang menguat dalam periode yang sama.
Di sisi lain, kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green yang diumumkan Pertamina pekan ini mencerminkan upaya penyesuaian fiskal terhadap kenaikan harga energi global. Jika kesepakatan AS–Iran berlanjut dan harga minyak terus turun, tekanan ini berpotensi mereda dan memberikan ruang fiskal yang lebih luas bagi pemerintah ke depan.
|
|
|
|
Setelah tekanan berat pekan sebelumnya, IHSG mencatatkan kenaikan mingguan tertinggi sejak Maret 2020 — didorong optimisme kesepakatan AS–Iran yang menekan harga minyak, penjelasan Danantara yang meredakan kekhawatiran pasar, dan langkah BI yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga untuk menarik inflow. Hal ini kemungkinan merupakan sinyal awal untuk memperbaiki sentimen investor.
Bagi pemegang Reksa Dana Obligasi, kenaikan yield obligasi pemerintah 10 tahun sebesar +54 bps dalam sepekan terakhir menekan kinerja NAV jangka pendek karena hubungan terbalik antara yield dan harga obligasi. Namun, level yield yang lebih tinggi juga berarti potensi imbal hasil ke depan yang lebih baik bagi investor yang masuk dan mengunci imbal hasil menarik, terutama untuk obligasi FR jangka pendek.
Turunnya harga minyak ke level ~US$84/barrel juga berpotensi mengurangi kekhawatiran fiskal pemerintah sekaligus menjadi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah dan inflasi global. Namun, tekanan inflasi AS yang masih tinggi membuat arah kebijakan The Fed belum pasti.
Karena banyak faktor masih dalam ketidakpastian, termasuk progres formal kesepakatan AS–Iran yang baru dijadwalkan ditandatangani Jumat (19/6), dan arah kebijakan Fed, investor dapat memastikan alokasi aset tetap sesuai profil risiko dan tujuan investasi. Reksa Dana Pasar Uang tetap relevan sebagai instrumen yang relatif stabil di tengah volatilitas pasar. Selain Reksa Dana Pasar Uang Rupiah, Reksa Dana Pasar Uang USD juga bisa menjadi alternatif bagi investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah.
|
|
|
|
|
Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD) |
|
| |
|
|
Cocok untuk diversifikasi mata uang asing di aset yang rendah risiko. |
|
|
| |
 |
BRI Seruni Likuid Dolar |
|
| |
Return +13,67% dalam Rupiah Sejak Peluncuran |
|
|
Return +3,17% dalam US Dollar Sejak Peluncuran |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
 |
Batavia USD Money Market |
|
| |
Return +11,77% dalam Rupiah Sejak Peluncuran |
|
|
Return +1,39% dalam US Dollar Sejak Peluncuran |
|
|
| |
|
|
| |
*Return reksa dana sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 12 Juni 2026.
**Return reksa dana sejak peluncuran 7 November 2025 hingga 12 Juni 2026.
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 12 Juni 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan. |
|
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
|
Return reksa dana per 12 Juni 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
|
|
|
|
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual produk tertentu.
|
|
|
|
Email ini dikirim oleh PT Bibit Tumbuh Bersama, Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Informasi di dalam email ini bersifat rahasia dan hanya ditujukan bagi investor yang menggunakan APERD PT Bibit Tumbuh Bersama dan menerima email ini. Dilarang memperbanyak, menyebarkan, dan menyalin informasi rahasia ini kepada pihak lain tanpa persetujuan PT Bibit Tumbuh Bersama.
Reksa dana merupakan produk pasar modal dan bukan produk APERD. APERD tidak bertanggung jawab atas risiko pengelolaan portofolio yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Semua investasi mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas nilai investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, keuntungan yang diharapkan dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi.
Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.
If you no longer wish to receive this email, click on the following link: Unsubscribe
|
Copyright © 2026. All rights reserved.
|
|
|
|
|
0 komentar:
Posting Komentar