Senin, 03 Agustus 2026

πŸ“‘ TLKM: Pemulihan pada 2Q26, Kinerja 1H26 Lampaui Ekspektasi

IHSG turun -0,03%, BRMS 1H26: Laba Bersih -44% YoY, di Bawah Ekspektasi. Kompilasi berita untuk hari ini.
open

πŸ“‘ TLKM: Pemulihan pada 2Q26, Kinerja 1H26 Lampaui Ekspektasi

Photo by: Stockbit

Daily Market Performance πŸš€

IHSG Foreign Flow Kurs USD/IDR Gold
6.234,5 -0,03% -Rp708,0 miliar 17.990 -0,47% 4.108 +0,02%
Oil Coal CPO Nickel
83,4 -7,48% 134,0-0,04% 4.629 -0,30% 17.249 -0,12%

πŸ‘‹ Stockbitor!

Telkom Indonesia ($TLKM) telah merilis kinerja keuangan periode 2Q26/1H26 dan mengadakan earnings call pada Senin (3/8). Berikut beberapa catatan penting dari kami:

  • Normalized Net Profit +6% YoY selama 1H26, Lampaui Ekspektasi

Telkom Indonesia mencatat laba bersih sebesar ~Rp6,3 T pada 2Q26 (+28% YoY, +45% QoQ), menandai laba bersih kuartalan tertinggi sejak 3Q23, sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp10,6 T (+1% YoY).

Sementara itu, laba bersih ternormalisasi (normalized net profit) TLKM pada 2Q26 mencapai Rp6,2 T (+16% YoY, +21% QoQ), sehingga laba bersih ternormalisasi selama 1H26 mencapai Rp11,3 T (+6% YoY), melampaui ekspektasi karena setara 55% estimasi 2026F konsensus. (vs. rata–rata 3 tahun terakhir: 50% laba bersih tahunan). Laba ternormalisasi tersebut mengecualikan dampak percepatan depresiasi, pajak atas transfer aset, kerugian investasi yang belum direalisasikan, dan keuntungan one–off dari hasil divestasi bisnis healthcare (AdMedika dan Telkomedika) senilai total ~Rp429 M setelah pajak.

Secara operasional, EBITDA selama 1H26 naik menjadi ~Rp37,4 T (+4% YoY), dengan margin EBITDA stabil di level 49,4%. Kenaikan EBITDA utamanya didorong oleh berlanjutnya kenaikan rata–rata pendapatan per pengguna (ARPU) ke level Rp46 ribu serta jumlah pelanggan yang relatif stabil secara kuartalan di level 153,5 juta pada 2Q26.

  • Mobile ARPU Berlanjut Naik & Jumlah Pelanggan Mulai Stabil

Pendapatan segmen mobile Telkomsel pada 1H26 naik menjadi ~Rp42,8 T (+5,6% YoY), didorong oleh berlanjutnya kenaikan ARPU menjadi Rp46 ribu pada 2Q26 (+11,7% YoY, +2% QoQ), dengan exit ARPU pada Juni 2026 telah mencapai di atas Rp47 ribu. Jumlah pelanggan juga tercatat mulai stabil di level 153,5 juta pada 2Q26 (-3,1% YoY, -0,1% QoQ). Ke depan, TLKM akan berfokus pada strategi yang mengutamakan pelanggan berkualitas tinggi (high–quality, low–churn customers).

Sementara itu, pendapatan segmen fixed broadband IndiHome pada 1H26 turun menjadi ~Rp12,8 T (-3,8% YoY), seiring penurunan ARPU ke level Rp211 ribu (-2,7% YoY, +3,4% QoQ) dan menyusutnya jumlah pelanggan ke level Rp9,5 juta (-5,4% YoY, -7,9% QoQ). Dalam earnings call pada Senin (3/8), manajemen TLKM menjelaskan bahwa penurunan jumlah pelanggan merupakan bagian dari proses rekalibrasi basis pelanggan, dengan mengeluarkan pelanggan yang tidak memberikan kontribusi pendapatan selama lebih dari 12 bulan dan diperkirakan tidak akan kembali berlangganan.

  • Streamlining Bisnis & Value Unlocking Aset Infrastruktur Terus Berjalan

Hingga akhir 2Q26, TLKM telah melakukan streamlining melalui 2 divestasi, 2 merger, serta penutupan 8 bisnis. Divestasi 2 bisnis healthcare (AdMedika dan Telkomedika) menghasilkan keuntungan setelah pajak sebesar ~Rp429 M. Ke depan, TLKM menargetkan penyelesaian 6 divestasi, 2 merger, dan 4 penutupan bisnis hingga akhir 2026.

Pada bisnis fiber, TLKM menargetkan penyelesaian fase ke–2 transfer aset Infranexia pada 2H26, sekaligus sedang dalam proses menghadirkan strategic partner. Manajemen juga menyampaikan bahwa milestone penting akan diumumkan pada akhir 3Q26, dengan target implementasi dimulai pada 4Q26. Untuk bisnis data center, TLKM masih mencari strategic partner, dengan target value unlocking selesai pada akhir 2026.

Manajemen TLKM juga menyampaikan bahwa belum akan melakukan perubahan guidance 2026. Meski pertumbuhan pendapatan selama 1H26 telah mencapai +4% YoY dan melampaui di kisaran +1–3% YoY, manajemen memperkirakan divestasi yang akan dilakukan pada 2H26 dapat memberikan tekanan moderat terhadap pertumbuhan pendapatan ke depan. Manajemen juga menambahkan bahwa seiring proses divestasi yang masih berlangsung, beberapa bisnis yang akan dijual berpotensi menahan pengembangan proyek baru, sehingga pertumbuhan pendapatannya menjadi lebih terbatas.

Key Takeaway

Secara keseluruhan, kami menilai kinerja TLKM pada 2Q26 menunjukkan hasil yang positif. Setelah membukukan laba bersih yang relatif lemah pada 1Q26 (-22% YoY, +114% QoQ), TLKM berhasil mencatat pemulihan laba bersih yang kuat pada 2Q26 (+28% YoY, +45% QoQ). Pertumbuhan pendapatan pada 1H26 pun mencapai +4% YoY, melampaui guidance 2026 dari manajemen di kisaran +1–3% YoY.

Selain pertumbuhan pendapatan yang melampaui guidance dan margin EBITDA yang hanya sedikit di bawah target, rasio capex–to–revenue pada 1H26 yang hanya mencapai 14,2% (vs. guidance: 17–19%) turut mendorong kenaikan free cash flow sebesar +12,8% YoY. Free cash flow yang lebih kuat memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi TLKM untuk menurunkan utang maupun meningkatkan pembagian dividen ke depan.

Harga saham TLKM ditutup menguat +4,2% pada penutupan perdagangan hari Senin (3/8).

πŸ“‰ BRMS 1H26: Laba Bersih -44% YoY, di Bawah Ekspektasi

  • $BRMS: Bumi Resources Minerals mencatat rugi bersih US$5 juta pada 2Q26 (vs. 1Q26: laba bersih US$18 juta, 2Q25: laba bersih US$9 juta), utamanya disebabkan oleh volume penjualan yang lemah, sehingga laba bersih selama 1H26 turun menjadi US$12,9 juta (-44% YoY) dan di bawah ekspektasi karena hanya setara 13% estimasi 2026F konsensus. Volume penjualan emas pada 2Q26 turun ke level 6.301 oz (-57% QoQ, -63% YoY), di saat harga jual rata–rata hanya turun -8% QoQ ke level US$4.138/oz sejalan dengan penurunan harga emas global. Penurunan volume penjualan disebabkan oleh: 1) operasi pushback di tambang PT Citra Palu Minerals menekan kadar emas yang diproses ke level 0,9 g/t (vs. 1Q26: 1,42 g/t), sehingga menurunkan output volume produksi emas; dan 2) kondisi kelebihan pasokan emas di pasar domestik, sehingga membuat hanya sekitar 70% dari output tersebut yang terjual seiring permintaan harga diskon dari pembeli, tercermin dari kenaikan inventory movement BRMS menjadi US$13 juta pada 2Q26 (vs. 1Q26: US$4 juta). Dari sisi biaya, cash cost naik menjadi US$20 juta pada 2Q26 (+15% QoQ), yang kami perkirakan juga berasal dari penyelesaian pembayaran operasi pushback. Kenaikan biaya di saat pendapatan turun -62% QoQ memperparah penurunan laba usaha pada 2Q26 menjadi hanya US$3 juta (vs. 1Q26: US$29 juta, 2Q25: US$23 juta). Ke depan, manajemen BRMS memperkirakan perbaikan pada kedua persoalan penjualan tersebut mulai 2H26 seiring pulihnya kadar bijih setelah pushback rampung, sementara kontrak bulanan dengan Aneka Tambang ($ANTM) hingga Juni 2028 disebut memberi kepastian serapan volume dan struktur pembentukan harga yang lebih baik.
  • $BUMI: Bumi Resources mencatat laba bersih US$35 juta pada 2Q26 (vs. 1Q26: US$24 juta, 2Q25: US$3 juta), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai US$59 juta (vs. 1H25: US$20 juta). Kinerja BUMI pada 2Q26 hingga akun ‘profit before minority interest’ (-24% QoQ) tertekan oleh kerugian Bumi Resources Minerals ($BRMS), seiring konsolidasi yang dilakukan BUMI terhadap BRMS meski kepemilikan efektifnya hanya ~20% per Juni 2026. Secara underlying, kinerja BUMI di segmen batu bara tetap solid pada 2Q26, tercermin dari kenaikan pendapatan segmen batu bara (+19% QoQ, +52% YoY), serta meningkatnya kontribusi dari joint venture PT Kaltim Prima Coal (+80% QoQ, +410% YoY). Sementara itu, pendapatan dari segmen emas melemah signifikan pada 2Q26 (-56% QoQ, -48% YoY), yang ~90% di antaranya disumbang oleh BRMS. Kami menyarankan investor untuk lebih memperhatikan akun ‘profit after minority interest’ karena telah menormalisasi dampak kepentingan non–pengendali (minority interest). Setelah memperhitungkan efek tersebut, porsi kerugian BRMS yang menjadi beban BUMI hanya sebesar US$0,9 juta (setara ~3% laba bersih BUMI pada 2Q26). Selama 1H26, pertumbuhan laba bersih didukung oleh kenaikan pendapatan segmen batu bara (+37% YoY), meningkatnya kontribusi dari PT Kaltim Prima Coal (+205% YoY), serta berkurangnya kerugian dari penjualan dan impairment aset tetap menjadi US$0,01 juta (vs. 1H25: rugi US$14 juta). Hingga tulisan ini dibuat, BUMI belum merilis data kinerja operasional untuk periode 2Q26.
  • $BUVA: Bukit Uluwatu Villa mengumumkan update rincian rencana rights issue yang telah disetujui pemegang saham dalam RUPSLB pada 26 Februari 2026, di mana perseroan kini berencana menerbitkan ~6,2 miliar saham baru dengan harga Rp250/lembar, rasio 4 saham lama mendapatkan 1 rights, dan efek dilusi hingga 20%. Potensi perolehan dana dari aksi korporasi ini mencapai ~Rp1,5 T, yang ditujukan untuk: 1) penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai guna mengakuisisi PT Royal Uluwatu Residence dan proyek pengembangan West Resort di Uluwatu; 2) pembayaran dipercepat atas seluruh pokok utang pinjaman pembiayaan; 3) pembangunan infrastruktur proyek Uluwatu Estate dan renovasi Alila Ubud; dan 4) serta penyertaan modal di PT Bukit Lagoi Villa untuk pengembangan infrastruktur kawasan wisata terpadu di Lagoi, Bintan. Pengendali BUVA, PT Nusantara Utama Investama, berkomitmen untuk melaksanakan 2,4 miliar rights dari total haknya sebesar ~3,8 miliar rights. Aksi korporasi ini memiliki sejumlah pembeli siaga, yakni PT Henan Putihrai Sekuritas sebesar maksimum Rp100 M, PT Tata Tirta Datun maksimum Rp350 M, Hapsoro maksimum Rp100 M, dan Ferry Sudjono maksimum Rp388,6 M. Jadwal cum rights di pasar reguler dan negosiasi pada 24 September 2026, sementara jadwal periode perdagangan dan pelaksanaan rights pada 1–14 Oktober 2026.
  • $INDF: Indofood Sukses Makmur mencatat laba bersih Rp1,8 T pada 2Q26 (-43% YoY, -40% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp4,7 T (-19% YoY). Laba bersih 1H26 terdampak kerugian kurs Rp2,2 T, di mana mayoritas (Rp1,7 T) tercatat pada 2Q26, seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Secara operasional, pendapatan relatif solid meski terdilusi lonjakan opex. Laba usaha mencapai Rp5,3 T pada 2Q26 (+10% YoY) dan Rp11,7 T selama 1H26 (+5% YoY), yang kami nilai sejalan ekspektasi. Secara segmental, ‘Bogasari’ menjadi segmen yang outperform bagi INDF sementara ‘consumer branded products’ di bawah Indofood CBP Sukses Makmur ($ICBP) mencatat kinerja moderat (lihat di bawah). Laba usaha segmen ‘Bogasari’ catatkan kenaikan laba usaha +18%/+21% YoY pada 2Q26/1H26 seiring top–line maupun margin yang lebih tinggi.
  • $ICBP: Indofood CBP Sukses Makmur mencatat laba bersih Rp1,1 T pada 2Q26 (-61% YoY, -56% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp3,7 T (-33% YoY) dan setara 40% estimasi 2026F konsensus (vs. 1H25: 60% realisasi laba bersih 2025). Penurunan laba bersih utamanya ditekan oleh rugi selisih kurs pada pos ‘beban keuangan’, yang membuat ‘beban keuangan’ meningkat ke Rp3 T pada 2Q26 (vs. 2Q25: untung Rp383 M) dan ke Rp4,1 T pada 1H26 (vs. 1H25: Rp1,3 T). Di sisi operasional, laba usaha pada 2Q26/1H26 masing–masing tumbuh +9%/+4% YoY, didorong utamanya oleh pendapatan yang tumbuh +16%/+11% YoY. Pertumbuhan laba usaha yang tidak sekencang pendapatan disebabkan oleh lonjakan opex +29%/+17% YoY pada 2Q26/1H26, sehingga margin laba usaha turun sekitar 120–130 bps YoY.
  • $SIDO: Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul mencatat laba bersih Rp186 M pada 2Q26 (-49% YoY, +27% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp334 M (-44% YoY) dan di bawah ekspektasi karena hanya setara 28% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 3 tahun: ~46% laba bersih tahunan). Pendapatan pada 2Q26 masih terkontraksi (-21% YoY, +29% QoQ). Hasil ini membuat pendapatan selama 1H26 turun -20% YoY, di bawah ekspektasi (36% estimasi konsensus vs. rata–rata 3 tahun terakhir: ~46% pendapatan tahunan) dan di bawah guidance manajemen yang memperkirakan pendapatan selama 2026F flat. Kami menilai kontraksi pendapatan secara tahunan tersebut dipengaruhi oleh: 1) proses destocking yang berlangsung sejak awal 2026; serta 2) efek high–base pada segmen ‘herbal medicine & supplements’. Margin laba usaha pada 2Q26 turun ke level 26,3% (vs. 2Q25: 43,2%, 1Q26: 26,7%), seiring margin laba kotor yang menyusut ke 50,5% (vs. 2Q25: 60,5%) serta rasio beban SG&A yang naik ke 24,2% (vs. 2Q25: 17,2%) di tengah kontraksi pendapatan.
  • $MAPI: Mitra Adiperkasa mengumumkan bahwa pengendali baru perseroan, Pacific Universal Investments Pte. Ltd., melalui Ocean Continuum Pte. Ltd. dan Samudra (Investment) Pte. Ltd. telah merealisasikan penawaran tender wajib sebanyak 36,24% saham perseroan. Setelah aksi korporasi ini, porsi kepemilikan publik turun dari 49% menjadi 12,76%.
  • $ACES: Aspirasi Hidup Indonesia mencatat laba bersih Rp227 M pada 2Q26 (+50% YoY, +39% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp390 M (+33% YoY) dan melampaui ekspektasi karena setara 54% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 3 tahun: ~39% laba bersih tahunan). Sebagai catatan, outperformance tersebut sebagian ditopang pos ‘others’ yang mencapai Rp160 M pada 2Q26 (+192% YoY, +120% QoQ), utamanya dari keuntungan selisih kurs. Dengan mengecualikan pos tersebut, laba usaha inti tercatat Rp132 M pada 2Q26 (-5% YoY, -9% QoQ) dengan margin laba usaha inti turun ke level 6% (-53 bps YoY, -17 bps QoQ). Pendapatan pada 2Q26 tumbuh moderat (+2% YoY, -7% QoQ), lebih rendah dibandingkan 1Q26 (+10% YoY), mencerminkan pergeseran seasonality Lebaran di mana bulan–bulan dengan SSSG tertinggi tahun ini (Februari: +6,6% YoY, Maret: +5,3% YoY) jatuh pada 1Q26. SSSG selama 1H26 melandai ke level +2,3% YoY (vs. 1Q26: +4,3% YoY) — masih sejalan dengan guidance 2026F manajemen di kisaran +2–4% YoY — yang mengindikasikan SSSG pada 2Q26 relatif flat, sehingga pertumbuhan pendapatan kemungkinan lebih ditopang oleh ekspansi gerai. Margin laba kotor naik ke level 48,5% pada 2Q26 (+186 bps YoY, +226 bps QoQ), di tengah realisasi kenaikan harga jual bertahap. Namun, perbaikan tersebut sepenuhnya tertekan oleh kenaikan rasio beban SG&A ke level 42,5% dari pendapatan (+236 bps YoY, +242 bps QoQ), sehingga kenaikan margin laba usaha ke level 13,4% pada 2Q26 sepenuhnya berasal dari pos ‘others’.
  • $TAPG: Triputra Agro Persada akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp60/saham, mengindikasikan dividend yield ~3,3% per Senin (3/8). Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 11 Agustus 2026, sementara pembayaran pada 31 Agustus 2026.
  • $POWR: Cikarang Listrindo mencatat laba bersih US$19,6 juta pada 2Q26 (-14% YoY, +12% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai US$37,1 juta (-6% YoY), dengan penurunan laba bersih selama 1H26 sepenuhnya bersumber dari beban pajak. Beban pajak selama 1H26 melonjak +68% YoY menjadi US$18,4 juta (vs. 1H25: US$11 juta), dengan pajak tangguhan menyumbang US$6,6 juta dari kenaikan sebesar US$7,5 juta tersebut. Manajemen POWR menjelaskan beban pajak tangguhan muncul karena pelemahan nilai tukar rupiah dan akan cenderung berulang selama rupiah melemah. Secara operasional, laba usaha pada 2Q26 naik menjadi US$36,4 juta (+30% YoY, +33% QoQ), sehingga laba usaha selama 1H26 tumbuh +7% YoY menjadi US$63,8 juta. Volume penjualan listrik ke pelanggan industri mencetak rekor 943 GWh pada 2Q26 (+14% YoY, +12% QoQ) dengan penjualan ke PLN mulai pulih menjadi 165 GWh (-29% YoY, +38% QoQ) seiring normalisasi pasokan gas yang telah mengalami gangguan sejak Agustus 2025. Kontribusi pelanggan data center terhadap total konsumsi listrik pelanggan industri naik menjadi 12% selama 1H26 (vs. 2025: 9%; 2024: 6%). Di sisi biaya, kenaikan beban pokok pendapatan pada 2Q26 (+4% YoY, +10% QoQ) lebih moderat dibandingkan pendapatan (+8% YoY, +14% QoQ) seiring normalisasi beban bahan bakar. Beban gas bumi selama 1H26 turun menjadi US$85,4 juta (vs. 1H25: US$93,2 juta) dan digantikan batu bara serta biomassa yang lebih murah, sehingga total beban bahan bakar hanya naik +0,8% YoY.

πŸ”Ž Insider Transactions

Source: IDX

Top Gainer πŸ”₯

$MAPI $HRUM $TAPG $NCKL
+21,86% +5,99% +5,14% +4,47%

Top Loser πŸ€•

$BUVA $INDY $BULL $KIJA
-11,36% -11,03% -5,73% -5,38%

 πŸ”₯ Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

  • Harga minyak Brent turun sekitar -8% ke kisaran US$83/barrel pada Senin (3/8) sore setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana untuk menyerang Iran dan mengatakan perundingan baru dengan Iran akan dimulai pada Senin (3/8). Trump mengatakan bahwa serangan tersebut dibatalkan dengan syarat kesepakatan dapat segera dicapai untuk membuka kembali Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada Minggu (2/8) bahwa perundingan antara Iran dan Oman terkait jalur pelayaran baru di Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa perundingan dengan Oman tersebut tidak mencakup keputusan mengenai apakah Selat Hormuz akan dibuka atau ditutup. Sementara itu, OPEC+ pada Minggu (2/8) menyepakati kenaikan kuota produksi minyak sekitar 188.000 barrel per hari mulai September 2026.
  • S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026 (vs. Juni 2026: 46,9), menandai angka tertinggi sejak Februari 2026. Produksi meningkat setelah 4 bulan beruntun mengalami penurunan, meski pertumbuhannya marginal. Sementara itu, pesanan baru stabil setelah turun tajam pada Juni 2026. Penjualan ekspor tetap lemah dan turun untuk bulan ke–5 beruntun. Permintaan yang stabil mendorong akumulasi backlog pekerjaan ke level tertinggi sejak November 2025, sehingga mendorong produsen untuk menambah staf untuk pertama kalinya dalam 5 bulan terakhir, meski dalam jumlah yang moderat. Aktivitas pembelian kembali menurun, meski hanya sedikit, seiring kenaikan harga bahan baku dan pasokan yang terbatas. Inflasi biaya input mereda ke level terendah dalam 4 bulan terakhir, meski tetap tinggi karena kenaikan bahan baku, yang menyebabkan kenaikan harga jual. Sentimen bisnis mencapai titik tertinggi sejak Januari 2026, didukung oleh ekspektasi penjualan yang lebih kuat, sentimen pelanggan yang membaik, dan tekanan biaya yang lebih rendah.
  • BPS mencatat bahwa inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Juli 2026 melandai ke 2,88% YoY (vs. Juni 2026: inflasi 3,34% YoY), lebih rendah dibandingkan ekspektasi konsensus yang memperkirakan inflasi 3,2% YoY dan sejalan dengan target inflasi Bank Indonesia pada 2026 di kisaran 2,5±1%. Secara bulanan, Indonesia mencatat deflasi IHK 0,14% MoM pada Juli 2026 (vs. Juni 2026: inflasi 0,44% MoM), di luar ekspektasi konsensus yang memperkirakan inflasi 0,09% MoM. Deflasi IHK secara bulanan pada Juli 2026 didorong oleh kelompok pengeluaran ‘makanan, minuman, dan tembakau’ dengan andil deflasi 0,26 percentage point, serta kelompok ‘perawatan pribadi dan jasa lainnya’ dengan andil 0,06 percentage point yang utamanya akibat penurunan harga emas perhiasan. Inflasi inti mencapai 2,76% YoY pada Juli 2026, tidak berubah dibandingkan Juni 2026.
  • BPS mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia mencetak defisit US$450 juta pada Juni 2026 (vs. Juni 2025: surplus US$4,11 miliar, Mei 2026: defisit 1,61 miliar), lebih baik dibandingkan ekspektasi konsensus yang memperkirakan defisit US$780 juta, sekaligus menandai defisit neraca perdagangan beruntun dalam 2 bulan terakhir. Hasil ini ditekan oleh ekspor yang hanya tumbuh +8,84% YoY (vs. Mei 2026: -5,73% YoY), sementara impor melonjak +34,27% YoY (vs. Mei 2026: +22,16% YoY). Selama 1H26, surplus neraca perdagangan Indonesia turun ke level US$3,58 miliar (vs. 1H25: surplus US$19,48 miliar).
  • Konsensus ekonom yang disurvei oleh Reuters mengekspektasikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat ke +5,1% YoY pada 2Q26 (vs. 1Q26: +5,61% YoY) seiring melambatnya permintaan konsumen dan kontribusi ekspor neto yang lebih rendah. Sebagai konteks, penjualan ritel Indonesia pada April dan Mei 2026 terkontraksi masing–masing -3,7% YoY dan -3,9% YoY, sementara neraca perdagangan Indonesia mencetak defisit beruntun pada Mei dan Juni 2026. Secara kuartalan, konsensus ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2Q26 akan mencapai +3,5% QoQ, pulih dari realisasi 1Q26 yang terkontraksi -0,77% QoQ. Data resmi pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 2Q26 akan dirilis oleh BPS pada Rabu (5/8).
  • Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Senin (3/8) bahwa pemerintah mempertahankan estimasi pertumbuhan ekonomi selama 2026 di kisaran +5,6–6% YoY. Purbaya juga menyebut bahwa pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan pada 2Q26 seiring konsumsi rumah tangga, investasi, dan pengeluaran pemerintah yang resilien.
  • BEI pada Jumat (31/7) merilis surat edaran yang akan menghapus dan menambah notasi khusus, mencakup penambahan notasi khusus ‘P’ serta penghapusan notasi khusus ‘E’, ‘D’, ‘A’, dan ‘S’. Notasi khusus ‘P’ menunjukkan bahwa saham terkait tidak memenuhi ketentuan minimum free float, di mana notasi khusus ini akan mulai diberlakukan pada 30 November 2026 untuk papan akselerasi dan 30 April 2027 untuk papan utama dan papan pengembangan. Adapun penghapusan notasi khusus ‘E’, ‘D’, ‘A’, dan ‘S’ akan dilakukan setelah 30 November 2026. Sebagai konteks, notasi khusus ‘E’ menandakan laporan keuangan terakhir menunjukkan ekuitas negatif, ‘D’ menandakan adanya opini “tidak menyatakan pendapat (disclaimer)” dari akuntan publik, ‘A’ menandakan adanya opini tidak wajar (adverse) dari akuntan publik, dan ‘S’ menandakan laporan keuangan terakhir menunjukkan tidak ada pendapatan usaha.
  • BPS mencatat bahwa kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai ~1,4 juta orang pada Juni 2026 (-2,2% YoY, +0,3% MoM). Hasil ini membuat kunjungan wisman selama 1H26 mencapai ~7,5 juta orang (+5,7% YoY), setara 42,3–46,6% target 2026 dari pemerintah di kisaran 16–17,6 juta orang.

♟️ Saham Belum Rilis LK Q2 2026, Investor Diminta Menunggu Kejutan

“Laporan yang terlambat juga belum tentu menyimpan kerugian. Bisa saja perusahaan justru ingin memberikan angka yang sudah ditinjau dan lebih dapat dipercaya.” — skydrugz27

Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini

Per 2 Agustus 2026, masih terdapat 196 saham dari 965 saham di IHSG (20,3%) yang belum merilis laporan keuangan (LK) Q2 2026. Keterlambatan pengunggahan laporan keuangan tidak serta-merta mengartikan perusahaan menutupi masalah. Namun, Stockbitor skydrugz27 berpendapat bahwa emiten tetap perlu memberikan penjelasa mengenai alasan keterlambatan agar investor memperoleh kepastian. Dalam tulisannya, skydrugz27 juga menyoroti calon mesin laba masih terkonsentrasi pada sektor-sektor seperti perbankan, batu bara, emas, minyak, dan gas. Selain itu, ia membahas lebih dalam laporan keuangan sejumlah emiten dengan laba besar pada Q1, termasuk kasus unik PSAB yang membukukan laba bersih melebihi pendapatan (revenue). Untuk memahami analisis lengkapnya, simak ulasan skydrugz27 dibawah ini!

Sekilas tentang skydrugz27

skydrugz27 mulai bergabung di komunitas Stockbit sejak tahun 2017. Di Stream Stockbit, ia rajin berbagi insight dalam berinvestasi, terutama bagi para investor karyawan dan mempopulerkan istilah investasi se-lot se-lot. Kamu bisa temukan insight menarik lainnya dari skydrugz27 di sini.

Copyright 2026 Stockbit, all rights reserved. Anda menerima email ini karena terdaftar sebagai akun aktif di Stockbit dan/atau telah mendaftar melalui website Stockbit/Stockbit Snips.

Disclaimer:

Email ini dikirim oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.

Semua konten dalam email ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual saham tertentu. Always do your own research.

Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing nasabah.

Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri “@Stockbit.com”. Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.
Want to change how you receive these emails?
Unsubscribe here
Share this history on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Berita Unik dan Aneh di Dunia Copyright © 2010 Designed by Dwi Isnein Evian Syah.Own Blog