|
Bibit Weekly – Suahasil Nazara Ditunjuk Jadi Menteri Keuangan Baru
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menguat, sementara harga minyak mendekati US$110/barrel. Baca selengkapnya!
|
|
|
|
|
Harga Minyak Kembali Dekati US$110/Barrel: Sempat menyentuh level US$109,8/barrel pada Senin (14/9), seiring gangguan operasional pipa East–West Arab Saudi.
→Kekhawatiran terhadap pasokan minyak meningkat, sekaligus menambah risiko inflasi global.
|
| |
|
|
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat: Menyusul rilis CPI Agustus yang belum mereda dan PPI yang sedikit di atas konsensus.
→Probabilitas kenaikan suku bunga pada FOMC September naik ke ~87%, dari ~60% seminggu sebelumnya.
|
| |
|
|
Suahasil Nazara Diangkat sebagai Menteri Keuangan Baru: Menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebelumnya, menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019.
→Pasar akan mencermati arah kebijakan fiskal dan kesinambungan kebijakan di bawah kepemimpinan baru.
|
|
|
|
|
|
Pasar Obligasi Cetak Foreign Inflow Rp6,8 T dalam Sepekan
|
| Latest Update (11/09/2026) |
| Indikator |
Nilai |
Perubahan |
| IHSG |
6.541,4 |
| WoW |
▼ -1,43% |
| YtD |
▼ -24,35% |
|
| IDR 10Y Govt Bond Yield |
7,15% |
| WoW |
▲ +4 bps |
| YtD |
▲ +108 bps |
|
| Rata-rata Bunga Deposito 12 Bln |
4,07% |
| WoW |
▲ +1 bps |
| YtD |
▲ +37 bps |
|
|
| Foreign Flow (Dalam Triliun Rupiah) |
| Aset |
1W |
1M |
YtD |
| Obligasi |
+6,80 |
+23,54 |
+39,45 |
| Saham |
-3,35 |
+0,69 |
-72,67 |
|
|
Sumber: Bloomberg, data all market per 11 September 2026, kecuali data foreign flow obligasi per 10 September 2026. |
|
| 🌏 What Happened in the Market |
|
|
|
Harga minyak Brent sempat menyentuh level US$109,8/barrel pada perdagangan intraday Senin (14/9), melanjutkan kenaikan +8,7% WoW per Jumat (11/9) yang menembus level US$100 untuk pertama kalinya sejak Juli 2026.
|
|
Kenaikan harga minyak didorong penghentian operasional pipa East–West Arab Saudi pada Jumat (11/9) menyusul serangkaian serangan sehari sebelumnya. Pipa berkapasitas 7 juta barrel per hari tersebut menjadi jalur vital ekspor Saudi sejak lalu lintas tanker di Selat Hormuz terganggu akibat perang AS–Iran. |
|
|
Badan Komunikasi Pemerintah mengatakan kepada Bloomberg pada Jumat (11/9) bahwa meski kenaikan harga minyak merupakan sebuah risiko, pemerintah menilai dampak langsungnya terhadap inflasi akan tetap terkendali selama harga BBM tetap dipertahankan oleh pemerintah. |
|
|
Pemerintah juga telah menyesuaikan outlook defisit APBN 2026 dari 2,68% terhadap PDB menjadi sekitar 2,85% terhadap PDB, yang akan memberikan ruang fiskal untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi. |
|
|
|
Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS Agustus 2026 sebesar +3,4% YoY (vs Juli 2026: inflasi +3,4% YoY), sesuai ekspektasi konsensus.
|
|
Inflasi inti turun ke 2,4% YoY pada Agustus 2026 (vs Juli 2026: inflasi 2,5% YoY), terendah sejak Februari 2026. |
|
|
Secara bulanan, inflasi inti AS naik 0,3% MoM pada Agustus 2026 (vs Juli 2026: inflasi 0,2% MoM), sedikit di atas ekspektasi konsensus (0,2% MoM). |
|
|
Biro Statistik Tenaga Kerja AS juga mencatat indeks harga produsen (PPI) AS mengalami inflasi 5,4% YoY pada Agustus 2026, naik dari 4,8% YoY pada Juli 2026 dan sedikit di atas ekspektasi konsensus (5,3% YoY). |
|
|
|
Departemen Keuangan AS pada Rabu (9/9) mengumumkan alokasi hingga US$6 miliar untuk buyback obligasi pemerintah AS tenor 10–20 tahun dalam operasi pada 10 September 2026, lebih besar dari komitmen minimum US$4 miliar per operasi yang diumumkan sebelumnya.
|
|
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level 5% pada Senin (14/9), naik ~1 bps setelah meningkat ~18 bps WoW per Jumat (11/9) sekaligus menandai level tertinggi sejak November 2023. |
|
|
|
Presiden Prabowo Subianto pada Senin (14/9) mengangkat Suahasil Nazara sebagai menteri keuangan yang baru, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Suahasil sebelumnya menjabat sebagai wakil menteri keuangan sejak 2019.
|
|
|
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,2% WoW ke level 17.600 pada Jumat (11/9), sementara indeks dolar AS (DXY) relatif stabil di level 99,1.
|
|
Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia naik ke US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026 (Juli 2026: US$145,3 miliar), ditopang penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi rupiah. |
|
|
|
|
|
Secara Global: Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga yang belum mereda. Core CPI Agustus naik +0,3% MoM, di atas ekspektasi +0,2%, sementara PPI juga sedikit melampaui konsensus. Kondisi ini mendorong probabilitas kenaikan suku bunga pada FOMC September naik ke ~87% per Jumat (11/9), dari ~60% seminggu sebelumnya, menurut CME FedWatch. Sebagai konteks, Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (10/9) telah menaikkan deposit rate sebesar +25 bps menjadi 2,50%, menambah indikasi bahwa kebijakan moneter global masih cenderung ketat. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga kembali naik dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 2023 di 5% per Senin (14/9). Kenaikan harga minyak yang sempat mendekati US$110/barrel turut menambah risiko terhadap outlook inflasi. Kombinasi tekanan inflasi yang belum mereda dan kenaikan harga energi membuat pasar semakin melihat ruang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga, meski keputusan tetap akan bergantung pada perkembangan data inflasi selanjutnya, terutama PCE. Untuk Indonesia: Penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru berpotensi membantu menjaga persepsi terhadap kredibilitas kebijakan fiskal. Dalam pernyataan awalnya, Suahasil menekankan pentingnya kredibilitas dan kesehatan fiskal, yang dapat memberikan sinyal bahwa stabilitas akan menjadi salah satu prioritas kebijakan. Sentimen pasar juga terlihat relatif positif, dengan IHSG ditutup hanya -0,1% setelah sempat melemah lebih dari -2% secara intraday. Penguatan rupiah dan kenaikan cadangan devisa menunjukkan tekanan eksternal masih relatif terkendali. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang semakin kuat dapat menjaga yield global tetap tinggi dan menahan penurunan yield obligasi domestik. Kenaikan harga minyak di atas US$100/barrel juga menjadi risiko bagi inflasi dan fiskal. Pemerintah menilai dampak langsung terhadap inflasi masih dapat terkendali selama harga BBM dipertahankan, tetapi jika harga minyak bertahan di level tersebut lebih lama, beban subsidi berpotensi meningkat. Kondisi ini dapat membuat BI tetap berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga, sementara pasar masih memperkirakan kenaikan +25 bps hingga akhir 2026. |
|
|
Bagi investor obligasi, foreign inflow ke pasar obligasi Indonesia menunjukkan bahwa minat investor asing terhadap aset rupiah masih bertahan. Namun, meningkatnya ekspektasi rate hike The Fed dapat membuat yield obligasi global dan domestik tetap tinggi dan lebih volatil dalam jangka pendek. Investor perlu mencermati keputusan FOMC pada 16 September, yang dapat memengaruhi arah yield global dan sentimen pasar dalam waktu dekat. Pergantian Menteri Keuangan juga menjadi faktor domestik yang perlu dicermati investor. Penekanan Suahasil terhadap kredibilitas dan kesehatan fiskal berpotensi mendukung sentimen terhadap aset domestik, termasuk rupiah, yang meski menguat belakangan ini masih melemah sekitar -5,6% YtD terhadap dolar AS. Ke depan, pasar tetap akan mencermati detail implementasi kebijakan di bawah kepemimpinan baru, terutama di tengah tekanan fiskal dari kenaikan harga minyak dunia. Dengan arah suku bunga global yang masih belum pasti serta pergantian Menteri Keuangan yang dapat mempengaruhi sentimen domestik, investor perlu menyesuaikan alokasi aset dengan profil risiko dan jangka waktu investasi. Reksa Dana Pasar Uang tetap menjadi pilihan defensif untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio, sementara Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat dipertimbangkan untuk mendiversifikasi eksposur terhadap rupiah. |
|
|
Reksa Dana Pasar Uang US Dollar |
|
|
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 14 September 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan. |
|
Top Reksa Dana Pasar Uang |
|
|
Return reksa dana per 14 September 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. |
|
SBN SR025: Kesempatan Terakhir Dapat Passive Income Bulanan hingga 6,90% p.a. |
Masa penawaran akan segera berakhir pada 16 September 2026 pukul 12.00 WIB atau selama kuota masih tersedia. |
| Simulasi Passive Income Tiap Bulan dari SR025 |
|
Modal |
Tenor 3 Tahun
Return 6,80% p.a. |
Tenor 5 Tahun
Return 6,90% p.a. |
Rp10 Juta |
Rp51.003 |
Rp51.750 |
Rp500 Juta |
Rp2.550.150 |
Rp2.587.500 |
Rp1 Miliar |
Rp5.100.300 |
Rp5.175.000 |
Rp5 Miliar |
Rp25.501.500 |
Rp25.875.000 |
| Simulasikan modal kamu → |
|
* Minimum pembelian Rp1.000.000. Kupon dibayar setiap bulan, sudah net setelah dipotong pajak (10%). |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual produk tertentu.
|
|
|
|
Email ini dikirim oleh PT Bibit Tumbuh Bersama.
Tentang PT Bibit Tumbuh Bersama (“Bibit”):
- Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
- Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II PT Stockbit Sekuritas Digital.
- Mitra Distribusi (Midis) penjualan Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang resmi ditunjuk oleh Kementerian Keuangan RI sejak awal tahun 2022.
- Bibit terafiliasi dengan PT Stockbit Sekuritas Digital (“Stockbit”), perusahaan efek Anggota Bursa Efek Indonesia yang berizin dan diawasi oleh OJK.
Semua konten dalam email ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual aset investasi tertentu. Always do your own research.
Semua investasi mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas nilai investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, keuntungan yang diharapkan dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Bibit melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing nasabah.
Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.
If you no longer wish to receive this email, click on the following link: Unsubscribe
|
Copyright © 2026. All rights reserved.
|
|
|
|
|
0 komentar:
Posting Komentar