|
|
|
Harga Minyak Turun ke Bawah US$80/Barrel: Seiring kabar disepakatinya roadmap kesepakatan perdamaian AS-Iran dalam 60 hari.
→ berpotensi menekan laju inflasi dan meringankan beban defisit APBN.
|
|
|
The Fed Pertahankan Suku Bunga di 3,50-3,75%: Menaikkan proyeksi inflasi 2026 dan memberi sinyal 1x kenaikan di 2026.
→ probabilitas rate hike pada pertemuan Desember 2026 naik signifikan ke ~90% per Senin (22/6).
|
|
|
BI Rate Naik +25 bps ke 5,75%: Sesuai ekspektasi konsensus, total +100 bps sejak Mei 2026.
→ BI memprioritaskan stabilitas nilai tukar di atas pelonggaran kebijakan.
|
|
|
|
|
|
|
Market Update
Foreign Flow Obligasi Kembali Catat Inflow, Yield Obligasi 10Y Turun ke ~7%
Latest Update (19/06/2026)
|
|
IHSG
6.177,1
|
WoW ▲ +2,82%
YtD ▼ -28,56%
|
|
|
IDR 10Y Govt Bond Yield
7,08%
|
WoW ▼ -34 bps
YtD ▲ +101 bps
|
|
|
Rata-rata Bunga Deposito 12 Bln
3,85%
|
WoW ▲ +5 bps
YtD ▲ +15 bps
|
|
|
Foreign Flow
(Dalam Triliun Rupiah)
|
1W |
1M |
YtD |
| Obligasi |
+4,20 |
+4,48 |
-7,72 |
| Saham |
-0,99 |
-27,19 |
-70,27 |
|
|
Sumber: Bloomberg, data all market per 19 Juni 2026.
|
|
|
| 🌏 What Happened in the Market |
|
|
|
|
Harga minyak turun ke kisaran ~US$77/barrel pada Senin (22/6), seiring pernyataan dari Qatar dan Pakistan yang menyebut bahwa AS dan Iran telah menyepakati roadmap untuk mencapai kesepakatan perdamaian dalam 60 hari.
|
|
Penurunan ini membalikkan kenaikan sebelumnya yang mencapai +2,2% menyusul laporan bahwa Iran menutup kembali Selat Hormuz pada Minggu (21/6) akibat serangan Israel di Lebanon. |
|
|
Pekan lalu, harga minyak sempat turun -8% WoW ke ~US$80/barrel pada Jumat (19/6), setelah penandatanganan nota kesepahaman sementara untuk mengakhiri konflik dengan Iran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. |
|
|
|
Bank Sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75%, sesuai ekspektasi konsensus.
|
|
Berdasarkan proyeksi terbaru, pejabat The Fed memperkirakan bahwa suku bunga acuan akan naik 1x sebesar +25 bps ke kisaran 3,75–4% hingga akhir 2026, dibandingkan proyeksi pada Maret 2026 yang memperkirakan adanya pemangkasan 1x sebesar -25 bps. |
|
|
Warsh juga mengumumkan akan melakukan review terhadap cara kerja The Fed, yang mencakup manajemen neraca keuangan, kerangka kerja inflasi, pengumpulan data ekonomi, serta metode komunikasi publik. |
|
|
|
Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI Rate sebesar +25 bps ke level 5,75%, sejalan dengan ekspektasi konsensus. Menandai kenaikan BI Rate sebesar +100 bps dalam sebulan terakhir, sebagai bagian dari upaya bank sentral untuk meredam volatilitas nilai tukar rupiah yang belakangan melemah terhadap dolar AS. |
|
|
MSCI merilis hasil Global Market Accessibility Review 2026 pada Kamis (18/6), dengan Indonesia mengalami penurunan pada kriteria information flow. Review ini belum menilai status pembekuan indeks maupun status klasifikasi pasar, yang baru akan dibahas dalam Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 (WIB).
|
|
|
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengatakan pada Jumat (19/6) bahwa pemerintah akan segera memberikan insentif bagi masyarakat untuk periode 3Q26, termasuk insentif fiskal, pangan, hingga transportasi. |
|
|
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Agustina Arumsari, pada Kamis (18/6) meminta waktu selama 1 bulan kepada DPR untuk menyusun kebutuhan anggaran yang lebih realistis dan efisien. Revisi anggaran akan mencakup pertimbangan penataan ulang penerima manfaat serta evaluasi dan perbaikan skema insentif dapur MBG. |
|
|
Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR telah menyepakati asumsi makroekonomi 2027 sebagai berikut: |
|
|
| Komponen |
Asumsi Makroekonomi 2027 |
Target APBN 2026 |
| Pertumbuhan ekonomi (YoY) |
+5,8–6,5% |
+5,4% |
| Inflasi (YoY) |
1,5–3,5% |
2,5% |
| Nilai tukar rupiah (USD/IDR) |
16.800–17.500 |
16.500 |
| Yield SBN tenor 10Y |
6,5–7,3% |
6,9% |
| Harga minyak mentah (US$/barrel) |
70–95 |
70 |
|
|
|
|
Secara Global: Melanjutkan tren pekan lalu, harga minyak kembali turun seiring kabar bahwa AS dan Iran telah menyepakati roadmap untuk mencapai kesepakatan perdamaian. Harga minyak yang lebih rendah seharusnya meringankan tekanan inflasi global.
Sementara itu, proyeksi inflasi 2026 terbaru di level 3,6% yang lebih tinggi (vs proyeksi Maret: 2,7%) menjadi salah satu faktor yang mendorong The Fed memberi sinyal akan menaikkan suku bunga (hawkish) setidaknya 1x hingga akhir 2026. Merespons hal ini, pasar mengekspektasikan probabilitas rate hike hingga akhir 2026 naik signifikan ke ~90% per Senin (22/6), dari ~60% sepekan sebelumnya (12/6), berdasarkan CME Fedwatch Tool. Sinyal ini menjaga dolar AS tetap kuat, dengan indeks dolar AS (DXY) naik ~1,4% WoW ke level 101 pada Senin (22/6).
|
Untuk Indonesia: Menguatnya indeks dolar AS (DXY) dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS menjadi salah satu faktor yang menekan nilai tukar rupiah. BI pun kembali menegaskan bahwa stabilitas rupiah merupakan prioritas saat ini dengan menaikkan BI Rate. Selain itu, kekhawatiran posisi APBN yang juga menjadi faktor pelemahan rupiah diharapkan dapat melunak seiring rencana pemangkasan anggaran program MBG — meski hal tersebut juga akan dipengaruhi oleh dinamika harga minyak ke depan.
Di sisi lain, stimulus ekonomi yang akan segera diumumkan pemerintah berpotensi menjaga daya beli masyarakat di tengah harga minyak yang kembali tidak pasti.
|
|
|
|
Kebijakan BI untuk kembali menaikkan BI Rate pekan ini, total +100 bps sejak Mei 2026, menunjukkan komitmen BI untuk menarik inflow dan menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, nilai tukar rupiah juga akan dipengaruhi oleh volatilitas harga minyak, yang pergerakannya mudah dipengaruhi oleh sentimen geopolitik yang berubah dengan cepat.
Di pasar saham, meski Global Market Accessibility Review MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada 1 kriteria (information flow), Indonesia masih dinilai sebagai salah satu pasar dengan aksesibilitas terbaik di Emerging Market Asia berdasarkan penilaian tersebut. Penilaian ini terpisah dari kinerja IHSG, yang secara year-to-date masih mengalami tekanan.
Di pasar obligasi, kenaikan BI Rate yang agresif diharapkan dapat menstabilkan rupiah dan meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah Indonesia bagi investor asing. Faktor ini sudah mulai terlihat: yield obligasi 10Y turun -34 bps WoW ke 7,08%, sementara foreign flow ke obligasi kembali positif (+Rp4,20 T dalam sepekan). Bagi pemegang Reksa Dana Obligasi, dinamika ini dapat menjadi katalis pendukung NAV jangka pendek, meski volatilitas yield ke depan masih mungkin terjadi seiring sentimen global yang belum stabil.
Tetap ada beberapa faktor ke depan yang berpotensi menambah dinamika pasar, mulai dari arah kebijakan The Fed, kelanjutan pembicaraan AS–Iran, hingga review MSCI dan S&P untuk Indonesia. Konsekuensinya bagi investor sederhana: volatilitas dapat masih tinggi dalam jangka pendek, sehingga menjaga alokasi aset sesuai profil risiko menjadi semakin penting. Reksa Dana Pasar Uang tetap relevan sebagai instrumen yang relatif stabil di tengah volatilitas pasar. Selain Reksa Dana Pasar Uang Rupiah, Reksa Dana Pasar Uang USD juga bisa menjadi alternatif bagi investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah.
|
|
|
|
|
Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD) |
|
| |
|
|
Cocok untuk diversifikasi mata uang asing di aset yang rendah risiko. |
|
|
| |
 |
BRI Seruni Likuid Dolar |
|
| |
Return +13,22% dalam Rupiah Sejak Peluncuran |
|
|
Return +3,23% dalam US Dollar Sejak Peluncuran |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
 |
Batavia USD Money Market |
|
| |
Return +11,33% dalam Rupiah Sejak Peluncuran |
|
|
Return +1,45% dalam US Dollar Sejak Peluncuran |
|
|
| |
|
|
| |
*Return reksa dana sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 19 Juni 2026.
**Return reksa dana sejak peluncuran 7 November 2025 hingga 19 Juni 2026.
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 19 Juni 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan. |
|
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
|
Return reksa dana per 19 Juni 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
|
|
|
|
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual produk tertentu.
|
|
|
|
Email ini dikirim oleh PT Bibit Tumbuh Bersama, Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Informasi di dalam email ini bersifat rahasia dan hanya ditujukan bagi investor yang menggunakan APERD PT Bibit Tumbuh Bersama dan menerima email ini. Dilarang memperbanyak, menyebarkan, dan menyalin informasi rahasia ini kepada pihak lain tanpa persetujuan PT Bibit Tumbuh Bersama.
Reksa dana merupakan produk pasar modal dan bukan produk APERD. APERD tidak bertanggung jawab atas risiko pengelolaan portofolio yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Semua investasi mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas nilai investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, keuntungan yang diharapkan dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi.
Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.
If you no longer wish to receive this email, click on the following link: Unsubscribe
|
Copyright © 2026. All rights reserved.
|
|
|
|
|
0 komentar:
Posting Komentar